Home Info Tentang GPIB

Warning: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198
Penjelasan Keselamatan Alinea 2 PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

PENJELASAN TENTANG PEMAHAMAN IMAN GPIB

I  KESELAMATAN

ALINEA 2

Bahwa Yesus Kristus 1) telah mati, bangkit dan naik ke surga 2) menjamin keselamatan orang percaya dan membebaskannya dari kuasa dosa 3), derita dan maut. Dengan demikian relasi manusia dengan Allah dan relasi manusia dengan sesama ciptaan-Nya telah dipulihkan. Hal itu akan senantiasa kami peringati melalui sakramen : Baptisan dan Perjamuan 4).

 

I.2.1.    YESUS KRISTUS

A. Arti Kata

Yesus Kristus berasal dari perbendaharaan kata Bahasa Yunani : "Iesu" (Ibrani : Yesua, Yehoshua) = YANG MENYELAMATKAN dan ”Kristos” (Ibrani : Mesiah; Arab = Masih) = YANG DIURAPI. Jadi kedua kata itu dapat diterjemahkan:

i. DIA YANG MENYELAMATKAN adalah DIA YANG DIURAPI atau

ii. JURUSELAMAT itu adalah RAJA YANG DIURAPI

B. Kedua nama itu diberikan kepada Yesus (Lukas 2:21)

 

I.2.2.    NAIK KE SURGA

Idiom ”NAIK KE SURGA” juga TURUN DARI SURGAmengandung makna spiritual. Naik ke Surga sama artinya dengan kembali ke dalam kemuliaan Allah, sedang turun dari surga bermakna ”mengosongkan diri menjadi sama dengan manusia(Filipi 2:7-8)

 

1.2.3. DOSA

Kitab Suci memiliki beragam kata Ibrani dan Yunani yang dapat diterjemahkan : DOSA. Namun penerjemahannya pun harus dilihat sesuai dengan ayat, perikop dan kitab di mana kata tersebut ditemukan. Hal ini perlu dipikirkan, sebab tiap penulis Kitab Suci memiliki latar belakang pengetahuan dan pengenalan yang beragam sesuai konteks tentang kata atau kalimat yang digunakannya.

Salah satu kata yang dipakai terkait erat dengan DOSA, dalam Bahasa Ibrani disebut hatat. Kata itu berarti : ”pelanggaran terhadap Hukum Allah”; kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Yunani ”amartias”. Terjemahan itu baik, tetapi tidak seluruh maknanya tepat, sebab kata "amartias” mengandung banyak sekali maknanya dalam Filsafat Yunani.

Dengan demikian, jika kita ingin memahami arti kata ”amartias”, maka kita harus memahami gagasan Filsafat Yunani yang terkandung di dalam kata tersebut. Jika diterjemahkan secara acak kita dapat berbuat kekeliruan.

Akan tetapi untuk memudahkan kita menjelaskan kata DOSA, maka ada beberapa pengertian yang dapat dikemukakan berdasarkan kesaksian Alkitab:

  1. Dosa adalah sikap hati manusia (motivasi yang berkaitan dengan hati nurani yang berkehendak dan akalbudi yang berpikir – Roma 3 :10-12) yang jahat.
  2. Akibatnya tampak pada perbuatan dan terdengar dalam perkataan  manusia yang melanggar Perjanjian Allah.

 

I.2.4.    SAKRAMEN

Sakramen adalah perbuatan suci yang ditetapkan Yesus Kristus untuk dilakukan di dalam Gereja-Nya. Sakramen itu adalah firman Allah yang dilakukan. Perbuatan sakramental itu mengandung janji Allah kepada umat-Nya, menjamin pengampunan dari dosa, hidup kekal bersama Allah, berdasarkan kematian dan kebangkitan Kristus Yesus.

HANYA DUA SAKRAMEN KETETAPAN GEREJA

Gereja memutuskan dan menetapkan pelaksanaan dan penyelenggaraan Sakramen sebagai TANDA dan LAMBANG, yakni :

1. BAPTISAN KUDUS, dan

2. PERJAMUAN KUDUS

Dalam Jemaat Kristen mula-mula sakramen bukan saja dipahami sebagai peringatan akan karya penyelamatan yang Kristus telah lakukan, akan tetapi juga pemberian anugerah berdasarkan iman dan kuat-kuasa Roh Kudus. Baptisan dan Perjamuan sama nilainya dengan Firman Alllah yang diberitakan. Jadi tidak boleh ada pelayanan sakramen tanpa pemberitaan Firman Allah. Hanya di dalam penerangan Firman Allah, sakramen memiliki nilai iman dan menunjuk pada keselamatan.

Sakramen Baptisan dan Perjamuan telah digunakan sebagai lambang pada perbuatan-perbuatan suci dalam Perjanjian Lama, seperti Sunat (Kejadian 17:11; Kolose 2:11-12 – digantikan oleh Baptisan dan Paskah (Keluaran 12: 7-8,13; 23:14-17; 1 Korintus 5:7) – kemudian dilanjutkan dalam Perjamuan Kudus). Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus itu menunjuk pada makna anugerah Allah ke atas komunitas perjanjian, dan yang menuntun tiap orang percaya lebih dekat kepada Allah.

Baptisan dan Perjamuan secara eksplisit menunjuk pula  pada makna penebusan dalam Kristus dan persekutuan dengan Diri-Nya melalui pimpinan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 11:23-27; Roma 6:3-5; Titus 3:5; 1 Korintus 11:23-27; Yohanes 6: 53-58,63; Kolose 2:11-12).

Gereja mengadakan dua sakramen sesuai yang diamanatkan Yesus Kristus, sebagaimana yang tertulis di dalam Perjanjian Baru:

  1. A. SAKRAMEN BAPTISAN 1 (Matius 28:19; Kisah Para Rasul 2:38)

DASAR LITURGI BABTISAN

Gereja melaksanakan pembaptisan kepada orang-orang yang mengakui imannya dengan nyata-nyata dalam pertemuan Ibadah Jemaat. Pembaptisan itu didasarkan  atas perintah Kristus Yesus :

NASKAH

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19)

BAPTISAN ADALAH METERAI KESELAMATAN

Baptisan diperlukan Gereja untuk melegalisasi dan melegitimasi keselamatan yang diterima hanya oleh iman di dalam Kristus Yesus dan dimeteraikan oleh Roh Kudus (Efesus 1:7-14; Titus 5:5). Roh Kudus-lah yang menuntun orang mengakui Kristus Yesus selaku Tuhan (1 Korintus 12:3). Dan, karena pertolongan Roh Kudus orang percaya menyerahkan diri dibaptiskan.

GEREJA MENETAPKAN PEMBAHARUAN PERJANJIAN SEBAGAI PENGGANTI BAPTISAN ULANG

Perpindahan Agama adalah hak azasi manusia sesuai dengan pilihan hati nurani dan keputusan akalbudinya. Gereja mengormati setiap keputusan yang dipilih orang percaya. Akan tetapi sebelum pilihan keputusan itu ”menjadi ketetapan hati” dari warganya, Gereja perlu melaksanakan pengembalaan khusus, agar yang bersangkutan dapat memahami makna keputusan yang dipilihnya.

Pengembalaan Gereja bertujuan positif, yakni : membimbing warganya untuk mengerti dan memahami anugerah keselamatan yang telah diterimanya dari Allah. Sekalipun Gereja tidak dapat menghalangi keinginan warga yang akan berpindah agama, namun sekurang-kurangnya membuka pemahaman tentang akibat (konsekwensi) yang akan dijalaninya kemudian (Matius 12:31-32), sehingga yang bersangkutan mempertimbangkan kembali keputusan yang dipilihnya.

Perpindahan agama tidak mengharuskan Gereja secara otomatis menghapuskan yang bersangkutan dari daftar keanggotaan Gereja, sebab Allah tidak menghendaki seorang pun binasa. Dia juga yang akan mengutus Roh-Nya ke dalam hati dan pikiran yang bersangkutan, sehingga ”suatu waktu”, yakni : menurut waktu yang sudah ditetapkan Allah, ia akan bertobat dan kembali ke dalam persekutuan Jemaat.

Dan jika yang bersangkutan itu bertobat dari dosa penyangkalan imannya akan Kristus Yesus, maka Gereja, sesuai dengan ketetapan Gerejawi yang telah diputuskan bersama, tidak lagi melakukan PEMBAPTISAN ULANG, melainkan kepada yang bersangkutan diberikan kesempatan MEMBAHARUI IMAN (JANJI) - nya. Pembaharuan perjanjian akan dilakukan sesuatu dengan tata cara yang sudah ditetapkan Gereja.

CARA PEMBAPTISAN

Menurut kesaksian Kitab Suci, Kristus Yesus tidak pernah mewariskan CARA PEMBAPTISAN. Apa yang dialami Kristus Yesus di Sungai Yordan, bukanlah CARA PEMBAPTISAN yang diwajibkan untuk diberlakukan oleh Gereja. Pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis kepada Kristus Yesus adalah ritus Agama Yahudi yang harus dijalani oleh warganya.

Oleh karena itu, Persidangan Gereja-lah yang akan menentukan CARA PEMBAPTISAN dengan mempertimbangkan tradisi gerejawi yang selama ini berkembang di dalam pelaksanaan baptisan.

KEESAAN SAKRAMEN GEREJA

Masalah yang dihadapi Gereja : bagaimanakah orang orang percaya dari denominasi lain yang sudah dibaptiskan dan berpindah keanggotaan gerejanya.

Gereja memahami dan mengakui, bahwa Sakramen yang diwajibkan Kristus Yesus untuk dilakukan adalah SAKRAMEN BAPTISAN dan SAKRAMEN PERJAMUAN. Sama seperti TUHAN Allah itu Esa, maka Esa jugalah seluruh karya-Nya. Oleh karena itu, setiap orang dewasa yang percaya kepada Kristus Yesus yang berpindah keanggotaannya tidak perlu dibaptiskan kembali. Akan tetapi, yang bersangkutan wajib mengikuti proses belajar (KATEKISASI GEREJA), agar ia mengetahui dan mengerti dengan sungguh-sungguh PEMAHAMAN IMAN GEREJA yang telah ditetapkan oleh Persidangan Sinode.

BAPTISAN DEWASA DAN KATEKISASI

Untuk mencapai hasil maksimal dari tujuan KATEKISASI yang dimaksudkan di atas, Gereja mengadakan KELAS KATEKISASI KHUSUS bagi orang atau orang-orang dewasa (baik secara individual maupun keluarga) yang BERPINDAH AGAMA. SILABUS dan KURIKULUM katekisasi itu diadakan berdasarkan PEMAHAMAN IMAN GEREJA.

 

Penjelasan tentang BAPTISAN ANAK dan DEWASA

Sesuai dengan kekayaan rohani yang terpelihara rapih dan berkembang sepanjang sejarahnya, Gereja memilih dan menetapkan dua jenis Pembaptisan, yakni :

1. BAPTISAN ANAK

Kitab Suci memberikan kesaksian, Allah membuat perjanjian kasih-karunia dengan orang beriman (Abraham). Terkait dengan Perjanjian Kasih Karunia TUHAN Allah memberi ”tanda perjanjian” (meterai) untuk dikenakan kepada setiap orang beriman, yakni : SUNAT. Akan tetapi SUNAT sebagai tanda perjanjian telah dinodai dosa umat-Nya (Israel). Kitab Suci menyaksikan :

NASKAH

Dan Tuhan telah berfirman : "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” (Yesaya 29:13; bandingkan Matius 15:8-9; Markus 7:6-7)

dan lagi dikatakan-Nya :

Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk. Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup (Ulangan 10:16; 30:6; bandingkan  Roma 2:29).

Oleh karena perbuatan Israel, ”SUNAT” sebagai ”tanda perjanjian kasih karunia” telah lumpuh kekuatannya. Manusia butuh akan ”tanda perjanjian yang baru”. Dan, TUHAN Allah menganugerahkannya ke atas kehidupan manusia di dalam dan melalui pekerjaan Kristus Yesus. Di dalam Kristus, SUNAT yang menjadi bayang-bayang dari tanda perjanjian digenapi-Nya. Paulus bersaksi :

NASKAH

Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa (Kolose 2:11).

SUNAT KRISTUS

Penggunaan ”tanda keselamatan(SUNAT) ditransformasikan Paulus ke dalam iman perjanjian baru tentang KEMATIAN dan KEBANGKITAN Kristus.

Makna SUNAT dalam Agama Yahudi terletak pada ”darah yang tercurah” sebagai dasar pembuatan perjanjian (Ibrani : qarat berith). Sebab itu, Paulus mentransformasikan ”darah perjanjian yang tercurah” itu tertuju pada KEMATIAN Kristus. Pada penyaliban itulah ”darah Kristus telah dicurahkan” untuk mengikat Allah – manusia dan, sekaligus, membenarkan manusia di hadapan Allah. Oleh karena itu, Paulus menuliskan

Gereja mengimani dan mengakui, bahwa TUHAN Allah mengikat perjanjian dengan Abraham dan keluarganya. Keluarga itu termasuk anak-anak.

Dengan demikian anak-anak pun dimasukkan ke dalam perjanjian kasih-karunia dan menerima berkat perjanjian.

Gereja menetapkan perkataan perkataan Kristus Yesus, sesuai dengan Perayaan Liturgi Baptisan kepada Anak-Anak :

NASKAH

"Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalanghalangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 19:14)

PERAYAAN BAPTISAN ANAK dalam LITURGI

Perjanjian Kasih-Karunia dianugerahkan Allah ke atas manusia secara individual dalam kesatuan persekutuan dan atau dianugerahkan ke atas komunitas di mana tiap-tiap orang yang percaya (termasuk anak atau anak-anak) bersekutu.

 

2. BAPTISAN PENEGUHAN SIDI ORANG DEWASA

Gereja menerima realitas dari keragaman hidup beragama dalam masyarakat Indonesia. Gereja pun menghargai kebebasan dan hak azasi yang dimiliki tiap individu. Hal seperti itu pun terjamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 29 : 1 – 2.

Oleh karena itu, Gereja terbuka dan menyambut setiap orang berdasarkan pengakuan iman dengan nyata-nyata, tanpa paksaan, tidak terdorong dan didorong pihak lain, melainkan dengan kesadaran sendiri datang kepada Gereja dan mengakui Kristus Yesus selaku Tuhan dan Juruselamat.

Sesuai dengan Ketetapan Gereja dalam Persidangan Sinode, maka kepada orang-orang yang berpindah agama (keyakinan), Gereja melaksanakan PENEGUHAN SIDI JEMAAT secara bersamaan dengan BAPTISANnya. Pelaksanaan BAPTISAN bagi orang dewasa tidak dipisahkan dari PENEGUHAN SIDI.

Cerita tentang Bendahara Negeri Etiopia (Kisah Para Rasul 8:26-40) menjadi pembanding yang digunakan untuk menjelaskan keyakinan Gereja tentang BAPTISAN DEWASA dan PENEGUHAN SIDI. Hal tersebut diuraikan sebagai berikut :

Ayat 28  : Orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab Nabi Yesaya.

Filipus     :    ”Mengertikah tuan apa yang tuan baca ?” (ayat 29)

Sida-Sida : ”Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang   membimbing aku ? (ayat 30)

”Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian?” (ayat 34)

Ayat 34   : Mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.

Sida-Sida : ”Apakah halangannya, jika aku dibaptis ?” (ayat36).

Filipus    : ”Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh” (ayat 37-a)

Sida-Sida : ”AKU PERCAYA, bahwa YESUS KRISTUS adalah ANAK ALLAH” (Ayat 37-b)

Ayat 38   : Orang Etiopia itu menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air....., dan Filipus membaptis dia.

 

Kesimpulan dari cerita Lukas tentang proses yang dilalui Sida-Sida Etiopia adalah :

1. Roh Kudus membuat orang Etiopia itu membaca kesaksian Kitab Suci tentang Injil Yesus.

2. Roh Allah mengantar Filipus untuk bertemu dengan orang Etiopia dan menjelaskan makna Kitab Yesaya.

3. Orang Etiopia yang sudah memahami Injil Yesus itu minta dibaptiskan.

Melalui cerita itu Gereja memahami, bahwa orang orang dewasa wajib mengikuti proses belajar untuk mengetahui, mengenal dan mengerti sekaligus mengaku iman dengan nyata-nyata Injil Yesus, barulah menerima sakramen Baptisan. Proses pembelajaran itu disebut dalam tradisi Gereja sebagai KATEKISASI.

PERAYAAN LITURGI BAPTISAN – PENEGUHAN SIDI ORANG DEWASA

Dengan demikian gereja menyimpulkan dan menetapkan, setiap orang dewasa yang akan menerima sakramen Baptisan wajib mengikuti proses belajar (KATEKISASI), kemudian dibaptis dan diteguhsidikan dalam Ibadah Jemaat dengan memakai Liturgi Gereja yang telah ditetapkan dalam Persidangan Sinode.

  1. B. SAKRAMEN PERJAMUAN (Matius 26 : 26-29)

HARI RAYA PASKAH (Keluaran 12; Imamat 23:4-8; Bilangan 9:1-14; Ulangan 16:1-2) adalah sebuah peristiwa yang harus dirayakan tiap keluarga dari Israel (Keluaran 12:47), karena TUHAN Allah bertindak menyelamatkan umat-Nya dari penindasan di Mesir (Keluaran 12:51). Pada hari itu, seluruh keluarga Israel menyembelih anak domba jantan yang tak bercacat cela, dimasak tanpa adonan. Darah anak domba itu dilaburkan pada ambang pintu rumah, sebagaimana yang dilakukannya pada malam terakhir menjelang eksodus.

Dalam perkembangannya anak domba yang dimasak tanpa ragi itu dimakan bersama dengan ”roti tak beragi” (Ulangan 16:3-8). Kedua Perayaan itu : Paskah dan Hari raya Roti tidak beragi digabungkan menjadi satu perayaan yang memaknai eksodus Israel dari Mesir.

 

MAKNA PASKAH DALAM TRADISI JEMAAT MULA MULA

Tradisi Yahudi tentang PASKAH itu diambil alih Jemaat Kristen Abad Pertama untuk mengingat rayakan KEMATIAN – KEBANGKITAN Kristus Yesus. Lambang dan tanda anak domba jantan yang tidak bercacat cela direlevansikan secara langsung pada Kristus. Kristus Yesus disebut: ANAK DOMBA ALLAH yang menghapus dosa dunia(Yohanes 1:29,36; Kisah Para Rasul  8:32; 1 Korintus  5:7; Ibrani 9:12; 10:4;13:20; 1 Petrus 1:19).

Yohanes mencatat ucapan Yesus tentang diri-Nya: ”Akulah roti hidup(Yohanes  6:32-35,48).

Kedua lambang itu, yakni: roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah yang memaknai karya Allah yang menyelamatkan di dalam Kristus Yesus.

Roti dan Anggur merupakan sarana (tran-subtantia), agar orang percaya dapat menghayati karya Allah yang menyelamatkan itu. Perayaan Perjamuan Kudus itu diikuti oleh semua orang percaya yang telah mengakui imannya dengan nyata-nyata (diteguh-sidikan) di dalam Ibadah Jemaat.

Gereja merayakan KEMATIAN – KEBANGKITAN Kristus melalui Ibadah Perjamuan Kudus sesuai dengan perintah Yesus (1 Korintus 11:23-25; bandingkan  Matius 26:26-29; Markus 14: 22-25; Lukas  22:15-20).


-------------------------------------------------------------

1 Gereja tidak mengenal BAPTISAN ORANG MATI; dan oleh karena itu Gereja tidak memberlakukannya.


SHALOOM








 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.